Upaya Menggagalkan Kampung Oseng IKN

Antariksawan Jusuf (dipublikasikan pada Rabu, 22 Juli 2026 07:08 WIB)
- Opini



   

Pengantar: Pada tanggal 10 Juli harian Radar Banyuwangi menulis Kampung Oseng Disiapkan Hadir di IKN, Bawa Identitas Budaya Banyuwangi ke Jantung Nusantara.
   Lantas tanggal 15 Juli 2026, pada kolom Man Nahnu, Samsudin Adlawi menulis: Oseng IKN dengan pengantar seperti berikut (ditulis persis seperti yang tercetak di Radar):
DISCLAIMER: catatan ini sangaja memakai Oseng. Bukan Osing atau Using. Pelafalan atau penulisan kata merujuk bunyi bahasanya, menurut saya, lebih nyaman. Siapa tahu, menggunakan ejaan fonetis menjadi jalan perubahan status dari subdialeg bahasa Jawa Baru, Oseng mendapat pengakuan sebagai bahasa.

   Judul yang saya pakai Upaya Menggagalkan Kampung Oseng IKN bukan ingin membatalkan proyeknya tetapi lebih pada menggagalkan penamaan Kampung Oseng, yang ejaannya secara sengaja dipilih melawan aturan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Using yang diterbitkan Dewan Kesenian Blambangan 2006.
   Berharap dengan ejaan pada satu kata "Oseng" dapat mengubah status bahasa Using, kalau ikut istilah almarhum Asmuni Srimulat, adalah suatu "hil yang mustahal." Karena menentukan suatu bahasa masuk ke subdialek atau bahasa tersendiri lebih banyak didasarkan pada jumlah kata yang sama dengan bahasa lain. Misalnya, seperti penelitian Prof. Suparman Herusantosa dalam disertasinya di Universitas Indonesia berjudul "Bahasa Using di Kabupaten Banyuwangi" ditemukan kurang lebih 70 persen kosakata yang sama dengan bahasa Jawa. Meski temuan ini bisa diperdebatkan karena sampelnya mengambil seluruh wilayah di Banyuwangi, tidak peduli mayoritas penduduknya penutur Using atau tidak.
   Perlu diketahui ejaan Itu sifatnya "Preskriptif", bukan "Deskriptif". Menurut Harimurti Kridalaksana dalam buku Kamus Linguistik  (penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2008/cetak ulang 2023), ejaan adalah seperangkat aturan untuk menulis bahasa yang sudah disepakati bersama. Ciri utama ejaan: Preskriptif artinya mengatur/memerintah.
   Ejaan bukan Deskriptif  yaitu hanya merekam bagaimana orang berbicara atau istilah Samsudin di atas "...merujuk bunyi bahasanya."
Contohnya:
Kita mengucap "Jakarte" tapi menulis "Jakarta".
Kita mengucap "Osing", "Oseng", "Using" tapi menulis "Using".
   Karena tugas ejaan bukan mengikuti ucapan, tapi menyeragamkan tulisan agar mudah dibaca semua orang, bisa diterima semua orang karena mengikuti asas keteraturan dan kesatuan.
   Kalau semua mengikuti aturan "deskriptif", satu kampung satu ejaan, akhirnya Bahasa Using pecah menjadi 100 versi tulisan.
   Agar ada satu standar untuk semua orang, baik di Banyuwangi atau dimana saja, tidak ada lagi "Osing", "Oesing", "Oseng", karena sudah ada yang sesuai tertulis aturan yaitu "Using." Tujuannya agar Bahasa Using bisa cenderung menjadi "bahasa tulis" yang sah, bukan hanya "bahasa lisan".
   Ada lagi Teori Standardisasi Bahasa - Heinz Kloss. Ahli sosiolinguistik Heinz Kloss mengatakan, agar satu bahasa bisa "selamat" dan diakui, harus melewati 4 tahap:
Seleksi → Kodifikasi → Elaborasi → Penerimaan.
   "Bahasa Using" SUDAH melampaui tahap Kodifikasi. Artinya sudah dipilih satu bentuk baku dan ditulis di kamus, buku pelajaran untuk diajarkan di sekolah-sekolah.
   Kalau kita kembali lagi menulis "Osing" atau "Oseng" sama saja kita membatalkan proses kodifikasi. Akibatnya Bahasa Using lebih sulit masuk ke ranah resmi: pendidikan, hukum, media.
  Satu lagi perlu dicatat, ada perbedaan antara  "Fonetik" dengan "Ortografi". Dalam ilmu bahasa ada dua ilmu:
1. Fonetik/Fonologi: Ilmu tentang bunyi/suara. Makanya wajar kalau kedengarannya "Osing".
2. Ortografi/Ejaan: Ilmu tentang tulisan. Tugasnya menyederhanakan bunyi menjadi tulisan yang teratur.
   Apakah Pedoman Ejaan yang sekarang berlaku itu harga mati? Selain kitab suci Al Quran, semua berpotensi bisa diubah.
   Namun, usulan perubahan itu mestinya dilakukan dengan cara yang lebih akademis, menyajikan satu set tata ejaan baru dengan berbagai argumennya, lantas mengumpulkan semua stakeholder: pemerintah, akademisi, ahli bahasa, budayawan, LSM dan pihak lain yg berkepentingan untuk menentukan arah bahasa Using ke depannya. Bahasa Indonesia tercatat pernah mengganti huruf tj menjadi c, dj menjadi j dsb.
   Tetapi begitu disepakati (seperti Pedoman Ejaan yang sekarang), semua pihak mesti dengan besar hati menerima dan menggunakannya. Tidak merongrong apa yang berlaku seperti yang dilakukan media Radar Banyuwangi dengan memilih "Oseng" bukan "Using".

-----

(Cara Usinge):

Ater-ater:

Tanggal 10 Juli koran Radar Banyuwangi nulis "Kampung Oseng Disiapkan hadir di IKN, Bawa Identitas Budaya Banyuwangi ke Jantung Nusantara".
   Aju tanggal 15 Juli 2026, nang kolom Man Nahnu, Samsudin Adlawi nulis: "Oseng IKN" kelawan ater-ater gedigi:

DISCLAIMER: catatan ini sangaja memakai Oseng. Bukan Osing atau Using. Pelafalan atau penulisan kata merujuk bunyi bahasanya, menurut saya, lebih nyaman. Siapa tahu, menggunakan ejaan fonetis menjadi jalan perubahan status dari subdaileg bahasa Jawa Baru, Oseng mendapat pengakuan sebagai bahasa.

Judhul tulisanisun ring ndhuwur  "Ngupaya Murungaken Kampung Oseng IKN" dudu arep mbatalaken proyeke, naming kanggo "mbatalaken" aran "Kampung Oseng", hang ejaane nyeja dipilih ngelawan aturan Pedoman Umum Ejaan Basa Using hang diterbitaken Dewan Kesenian Blambangan 2006, hang seprene dadi lemek lan pelanggeran kanggone basa Using hang wis dadi muatan lokal ring sekolah.
   Ngarepaken mung ejaan sak ucap bisa nguwahi setatus Basa Using iku kadhung ulih nyilih istilah ruwahe Asmuni Srimulat "hil yang mustahal". Merga nemtokaken basa iki melebu subdialek tah basa hang ngadeg dhewek, dhasare lebih ring ngitung jumlah ucap hang padha ambi basa liyane. Contone, kaya penelitiane Prof. Suparman Herusantosa ring disertasine ning Universitas Indonesia hang judhule "Bahasa Using di Kabupaten Banyuwangi" ditemokaken kira-kira 70 persen ucap hang padha ambi Basa Jawa.
   Kanggo pengiling, ejaan iku sipate "Preskriptif", dudu "Deskriptif". Miturut Harimurti Kridalaksana ring buku Kamus Linguistik (penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2008/cetak ulang 2023), ejaan iku sak kumpulan aturan kanggo nulis basa hang wis disepakati bareng-bareng. Ciri utamane ejaan: Preskriptif artine ngatur/merentah.
   Ejaan dudu Deskriptif yaiku mung ngerekam kelendi uwong ngomong utawa istilahe Samsudin ning dhuwur mau "...merujuk ke bunyi bahasanya."
   Tuladhane:
Kene ngucap "Jakarte" tapi nulis "Jakarta", gedigu pisan kene ngucap "Osing", "Oseng", "Using" tapi nulis "Using".
   Merga tugase ejaan dudu miloni ucap, naming nyeragamaken tulisan makene gampang diwaca kabeh uwong, bisa ditampa kabeh uwong merga miloni azas keteraturan lan kesatuan.
   Kadhung kabeh miloni "deskriptif", sak kampung sak ejaan, pungkasane Basa Using sibrak dadi 100 macem tulisan.
    Makene ana sak setandar kanggo kabeh wong, hang nong Banyuwangi utawa nong endi bain. Nana maning "Osing", "Oesing", "Oseng", merga wis ana aturane yaiku "Using." Tujuwane makene Basa Using bisa dadi "basa tulis" hang sah, dudu mung "basa lisan".
    Ana maning Teori Standarisasi Basa - Heinz Kloss. Ahli sosiolinguistik Heinz Kloss ngomong, gok siji basa bisa "slamet" lan diakoni, kudu ngeliwati 4 babakan:
Seleksi → Kodifikasi → Elaborasi → Penerimaan

"Using" WIS ngeliwat babakan Kodifikasi. Artine wis dipilih siji ejaan baku lan ditulis ning kamus, buku pelajaran kanggo diwulangaken nyang sekolah-sekolah.
   Kadhung awak dhewek balik maning nulis "Oseng", padha bain awak dhewek mbatalaken peroses kodifikasi. Pungkasane Basa Using saya angel melebu ring ranah resmi: pendidikan, hukum, medhiya.
   Siji maning hang perlu dicathet, ana bedane antarane "Fonetik" lan "Ortografi". Ning ilmu basa ana 2 ilmu:
1. Fonetik/Fonologi: Ilmu babagan suwara. Mangkane hing maido kadhung kerungune  "Osing".
2. Ortografi/Ejaan: Ilmu babagan tulisan. Tugase nyedherhanakaken suwara dadi tulisan hang miloni aturan.
   Pedoman Ejaan iku wis hing keneng diuwah maning tah? Kejaba Kitab Suci Al Quran, kabeh bisa diuwahi.
   Naming, usulane mesthine dilakoni kelawan cara hang lebih akademis, ngajokaken sak set tata ejaan anyar ambi macem-macem argumentasine, aju ngejak kabeh stakeholder, pemerintah, akademisi, ahli basa, budayawan, LSM lan pihak liyane kanggo nemtokaken arah basane engko. Basa Indonesia bengen tau nyiluri hurup tj dadi c, dj dadi j lan seteruse.
   Naming sakwise disepakati (kaya Pedoman Ejaan hang saiki), para pihak mesthine kudu legawa nampa lan nggunakaken. Aja aclak lan ampah kaya hang dilakoni medhiya Radar nganggo "Oseng" dudu "Using".

Redaktur menerima berbagai tulisan, kirimkan tulisan anda dengan mendaftar sebagai kontributor di sini. Mari ikut membangun basa Using dan Belambangan.


Editor: Antariksawan Jusuf